OPEN TRIP BADUY, 12-13 MEI 2018.
Setelah lama enggak ikut Open Trip, baru ini lagi saya ikut. Berencana ke Baduy itu sudah jauh-jauh hari saya mau ikut, yang pertama sudah DP, tapi ternyata harus kerja lembur. Kedua, sudah mau ikut, tapi cuaca enggak memungkinkan banget untuk ikut. Dan akhirnya, tahun ini baru kesampean.
Open Trip yang saya ikutin dulu pernah diikutin sama temen saya, makanya saya dan temen saya waktu itu enggak mau ambil pusing untuk cari-cari Open Trip yang lain. Saya ke Baduy ini bertepatan dengan pulangnya temen saya dari Taiwan. Panggil saja dia, Jenny a.k.a Jenoooooonnnnnggggg, wkwkwkkwwk. Saya juga ngajak temen saya yang lain, Lia dan Erni.
12 Mei 2018.
Berangkat dari rumah jam 05.30 WIB dengan menggunakan kereta Commuter Line. Saya janji ketemuan dengan Erni di stasiun Manggarai. Sedangkan Jenny dan Lia kita janjian di stasiun Tanah Abang.
Jam 08.00 WIB kita sudah berkumpul meeting point di stasiun Tanah Abang. Kurang lebih ada 7 perempuan dan 6 laki-laki yang ikut di Open Trip ini. Perjalanan dimulai dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun rangkasbitung, kurang lebih 2 jam lamanya perjalanan. Lumayan juga buat lanjut mimpi, hehe...
Setelah 2 jam perjalanan kita sampai di stasiun Rangkasbitung jam 10.00 WIB. Lalu, kita lanjut perjalanan menggunakan mobil elf yang telah di sediakan pihak panitia menuju Desa Ciboleger.
Sepanjang perjalanan kita disajikan oleh jalanan hancur dan debu-debu berterbangan,wkkwkw...sungguh itu parah sekali debunya. Rambut kita langsung berasa jadi sapu ijuk, ckckck.
Yang rencana kita mau lanjut bobo cantik, ternyata buyar sudah harapan. Boro-boro bobo cantik, yang ada bobo jelek akibat jalanan rusak.
Perjalanan kita menuju Desa Ciboleger memakan waktu kurang lebih 3 jam, sekitar jam 13.00 WIB, yup 3 jam dengan jalanan yang rusak itu cukup membuat pantat kita serasa "Per" alias "Membel".
Sampai di Desa Ciboleger kita di sambut oleh sesuatu yang diluar dugaan kita, ternyata disana ada Indomart, ya ampun syurgaaaa tersembunyi di Baduy. Tanpa pikir panjang, turun elf kita langsung lari masuk Indomart, untuk ngadem :))
Selesai ngadem cantik di Indomart kita langsung cuss ke atas untuk makan siang. Ya, makan siang kita di masak oleh para ambu di Baduy Luar. Ambu masak kangkung, tempe goreng, sambal, lalapan, dan yang paling sadis adalah ikan asin (alah makk sedap bener).
Jam 14.00 WIB, perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Target kita sampai Baduy Dalam itu 4 jam perjalanan. Kalo bisa lebih cepat itu lebih baik. Supaya kita enggak terlalu kemalaman di jalan. Karena minim sekali penerangan disana.
Just info, di Baduy Dalam itu tidak ada penerangan sama sekali, karena sudah menjadi peraturan disana tidak boleh ada listrik.
Selain itu juga tamu yang berkunjung tidak boleh menggunakan alat kebersihan seperti sabun mandi, pasta gigi, sampo, dan alat kebersihan lainnya yang menghasilkan limbah sehingga air tidak tercemar.
Selain itu yang penting dan utama dalam perjalanan ini secara pribadi buat saya adalah kita tidak boleh menggunakan gadget apapun itu bentuknya. Di lain sisi mengurangi saya kecanduan :))
Seperenam perjalanan sudah terlewati dan itu sudah membuat saya ngos-ngosan (maklum keberatan badan dan ga pernah olahraga). Saya berpikir tidak akan parah perjalanannya, ternyata saya salah besar. Bahkan ini belum seberapa (ku ingin menangis).
Baiklah, lanjut perjalanan. Ketika sudah sampai di perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam kita di beritahu oleh pendamping kita, oh iya pendamping kita ini adalah mereka anak-anak muda dari Baduy Dalam. Umur mereka antara 9-15 tahun. Mereka selain sebagai petunjuk jalan, juga sebagai pembawa barang, jadi seumpama kawan-kawan semua keberatan bawa tasnya, kalian bisa titipkan ke mereka. Ada jasa, pasti ada biaya dong, biayanya 50.000 rupiah untuk pulang-pergi.
Di sepanjang perjalanan menuju Baduy Dalam ini, kita akan menjumpai beberapa jembatan, baik itu terbuat dari bambu atau akar pohon, 100% akar pohon, keren ya :))
Selain itu juga ada 1 tanjakan, yang ampun sih, enggak paham lagi harus ngomong apa saya. Melangkah 3 langkah, istirahat 5 menit. Melangkah 3 langkah, istirahat 5 menit. Gitu aja terus sampe atas, wkwkwkw...Saya memang paling tidak kuat kalau disuruh untuk nanjak. Bersyukurnya saya punya temen-temen yang sabar. Setia di belakang saya. I lop u pulll lah pokoknya.
Selain itu juga ada 1 tanjakan, yang ampun sih, enggak paham lagi harus ngomong apa saya. Melangkah 3 langkah, istirahat 5 menit. Melangkah 3 langkah, istirahat 5 menit. Gitu aja terus sampe atas, wkwkwkw...Saya memang paling tidak kuat kalau disuruh untuk nanjak. Bersyukurnya saya punya temen-temen yang sabar. Setia di belakang saya. I lop u pulll lah pokoknya.
Sekitar pukul 18.00 WIB, kita tiba di Baduy Dalam dan gelap menyelimuti tempat ini.... Wkwkkwkw...
Tidur beralaskan bambu dan memang rata-rata kalau dilihat-lihat rumah mereka lebih dominan menggunakan bambu. Uniknya setiap bangunan menggunakan tali dari akar-akar pohon untuk mengaitkan bangunan dari sisi yang satu dengan sisi yang lainnya. Pintunyapun dibuat hanya satu (one and only), yaitu masuk dan keluar hanya melewati satu pintu, tanpa ada pintu lagi didalam untuk membedakan antara 1 ruangan dengan ruangan yang lainnya, karena itu merupakan salah satu adat disana. Bahwa satu rumah hanya boleh memiliki satu pintu. Rumah mereka juga amat sederhana, hanya ada ruang tamu dan dapur. Ruang tamu sekaligus kamar tidur. Oh iya, setiap rumah tidak menyediakan kamar mandi ya. Jadi, kalau kalian mau mandi, bersih-bersih, ngambil air untuk masak, buang hajat, dan lain-lain. Kalian harus pergi ke sungai, yang jaraknya kurang lebih 5 meter dari rumah yang saya tempati.
Pertama-tama ke sungai memang kaget sih, harus banget ya kita ke sungai dengan posisi sungai bagian atas untuk laki-laki dan sungai bagian bawah untuk perempuan. Nanti kalo di sungai bagian atas ada yang buang hajat gimana dong, masa kita yang cewek-cewek ini yang kena imbasnya, arghhh...
Tapi plis...buang jauh-jauh pikiran itu. Pikirkan gimana mereka penghuni Baduy Dalam bisa bertahan hingga saat ini dengan hidup seperti itu. Nikmati aja. Kapan lagi bisa back to nature kayak gitu.
Oh iya, salah satu larangan lagi yaitu, saat mandi atau bersih-bersih di sungai dilarang menggunakan sabun, sampo, odol, atau apapun itu yang mengandung bahan kimia. Mereka berpikir kalau setiap pengunjung menggunakan bahan-bahan kimia tersebut, sungai akan tercemar dan merusak ekosistem di daerah tersebut. So, plis... Taati aturan ya teman.
Tidur beralaskan bambu dan memang rata-rata kalau dilihat-lihat rumah mereka lebih dominan menggunakan bambu. Uniknya setiap bangunan menggunakan tali dari akar-akar pohon untuk mengaitkan bangunan dari sisi yang satu dengan sisi yang lainnya. Pintunyapun dibuat hanya satu (one and only), yaitu masuk dan keluar hanya melewati satu pintu, tanpa ada pintu lagi didalam untuk membedakan antara 1 ruangan dengan ruangan yang lainnya, karena itu merupakan salah satu adat disana. Bahwa satu rumah hanya boleh memiliki satu pintu. Rumah mereka juga amat sederhana, hanya ada ruang tamu dan dapur. Ruang tamu sekaligus kamar tidur. Oh iya, setiap rumah tidak menyediakan kamar mandi ya. Jadi, kalau kalian mau mandi, bersih-bersih, ngambil air untuk masak, buang hajat, dan lain-lain. Kalian harus pergi ke sungai, yang jaraknya kurang lebih 5 meter dari rumah yang saya tempati.
Pertama-tama ke sungai memang kaget sih, harus banget ya kita ke sungai dengan posisi sungai bagian atas untuk laki-laki dan sungai bagian bawah untuk perempuan. Nanti kalo di sungai bagian atas ada yang buang hajat gimana dong, masa kita yang cewek-cewek ini yang kena imbasnya, arghhh...
Tapi plis...buang jauh-jauh pikiran itu. Pikirkan gimana mereka penghuni Baduy Dalam bisa bertahan hingga saat ini dengan hidup seperti itu. Nikmati aja. Kapan lagi bisa back to nature kayak gitu.
Oh iya, salah satu larangan lagi yaitu, saat mandi atau bersih-bersih di sungai dilarang menggunakan sabun, sampo, odol, atau apapun itu yang mengandung bahan kimia. Mereka berpikir kalau setiap pengunjung menggunakan bahan-bahan kimia tersebut, sungai akan tercemar dan merusak ekosistem di daerah tersebut. So, plis... Taati aturan ya teman.
Setelah bersih-bersih di sungai, inilah saat-saat yang kita nantikan, MAKAN MALAM.
Hehe...
Untuk makanan dari tim panitia sudah menyediakan bahan-bahan makanan, nah nanti yang masak ambu-ambu di sana. Ambu itu sebutan untuk ibu/istri. Sedangkan untuk bapak/suami biasa disebut ayah. Kepala suku di sana biasa di panggil Jaro.
Tempat tinggal Jaro terpisah dengan penduduk lainnya. Ada batas tersendiri. Waktu saya kesana sebagai pembatas antara rumah Jaro dengan penduduk yaitu bambu panjang yang melintang kekiri dan kekanan. Dan kawasan tersebut tidak boleh di masuki oleh sembarang orang, khususnya pengunjung dari luar seperti saya.
Selesai makan malam kita adakan sesi tanya jawab sekaligus pengenalan diri sebagai bagian dari pengakraban satu sama lain. Sayangnya tidak semua saya ingat, yang saya ingat hanya beberapa, seperti:
- sistem pernikahan mereka adalah sistem perjodohan, tetapi kalo kedua belah pihak sudah saling suka.
- jika salah satu dari mereka suka dan ingin menikah tetapi dengan penduduk baduy luar, mereka yang berasal dari baduy dalam harus siap keluar dari baduy dalam.
- penduduk baduy dalam boleh-boleh saja melakukan perjalanan hingga keluar kota, seperti Jakarta, Bandung, dll. Akan tetapi sebagai syaratnya adalah mereka tidak boleh menggunakan kendaraan apapun itu.
-mereka boleh memakan apa saja kecuali kambing dan (saya lupa).
-pakaian mereka 100% dibuat sendiri.
-mata pencaharian mereka adalah berkebun, menenun, membuat kerajinan tangan seperti tas, piring, gelas yang terbuat dari bambu.
-mereka melahirkan dengan dibantu oleh paraji atau dukun beranak.
-mereka juga boleh melakukan pemilihan umum (PEMILU) akan tetapi tidak dipaksakan, hanya untuk yang mau saja.
-mereka tidak mengenal sekolah apalagi membaca dan menulis.
-setiap laki-laki, baik kecil maupun dewasa mereka selalu membawa semacam golok kecil yang di sangkutkan di bagian celananya.
-mereka tidak memiliki agama. Tetapi sebagai penganut kepercayaan sunda wiwitan.
-mereka juga memiliki nama-nama bulannya sendiri (saya tidak hapal karena dalam versi sunda :)).
-setiap bulan Juli, Agustus, September dalam kalender mereka, kunjungan untuk orang luar di tutup. Karena mereka sedang mengadakan acara adat.
-mereka juga berpuasa, bedanya kalau kita puasa selama 30 hari full dalam sebulan. Kalau mereka 1 bulan hanya 1 kali puasa, itu disebut puasa 30 hari oleh mereka.
-untuk masalah perceraian, mereka boleh bercerai tapi konsekuensinya mereka harus di usir dari Suku Baduy.
Itu berberapa yang saya tahu, dan mohon maaf kalau ada kesalaham-kesalahan.
13 Mei 2018.
Subuh-subuh sekali kita bangun, lalu mandi dan rapi-rapi. Setelah itu kita sarapan.
Selesai semua, kita siap-siap untuk pulang karena perjalanan baru akan di mulai kembali.
Jujur aja, semalaman saya enggak bisa tidur, badan rasanya kayak habis di pukulin orang se-Baduy :)
Ini beberapa pemandangan di sepanjang kita pulang.
Kita juga mampir ke jembatan akar yang terkenal itu, tapi sayangnya saya enggak banyak foto-foto disana, karena sudah telalu letih hayati bangggg.... :(
Sekitar pukul 14.00 WIB kita sudah sampai di Desa Ciboleger lagi dan bertemu dengan Indomart, itu rasanya seperti surga yang di rindukan part ke sekian :p
Oh iya, disana juga tersedia banyak oleh-oleh loh, ada madu, gula aren, kain tenun, aksesoris seperti gelang, kalung, gantungan kunci, tas rajut, dll. Saya hanya membeli madu khasnya Baduy aja. Efek ga mau bawa barang berat-berat (padahal memang dompet tiris pisan euy) :)
Pukul 14.30 WIB kita naik elf menuju stasiun Rangkas Bitung.
Ini foto-foto sebelum kita naik elf dan say good bye pada Baduy
Dan inilah beberapa foto yang sayang untuk di buang :))
Dan ini oleh-oleh dari Baduy :(
Dan inilah akhir dari perjalanan saya menuju Desa Ciboleger-Baduy Dalam, Banten.
Oh iya, trip yang saya pakai ini adalah @postualang.
Jadi, seumpama kawan-kawan ada yang berminat bisa cek instagramnya ya.
Terima kasih semua.
See u di perjalanan selanjutnya... Hmmmmm..... kemana ya....
Hehe...
Untuk makanan dari tim panitia sudah menyediakan bahan-bahan makanan, nah nanti yang masak ambu-ambu di sana. Ambu itu sebutan untuk ibu/istri. Sedangkan untuk bapak/suami biasa disebut ayah. Kepala suku di sana biasa di panggil Jaro.
Tempat tinggal Jaro terpisah dengan penduduk lainnya. Ada batas tersendiri. Waktu saya kesana sebagai pembatas antara rumah Jaro dengan penduduk yaitu bambu panjang yang melintang kekiri dan kekanan. Dan kawasan tersebut tidak boleh di masuki oleh sembarang orang, khususnya pengunjung dari luar seperti saya.
Selesai makan malam kita adakan sesi tanya jawab sekaligus pengenalan diri sebagai bagian dari pengakraban satu sama lain. Sayangnya tidak semua saya ingat, yang saya ingat hanya beberapa, seperti:
- sistem pernikahan mereka adalah sistem perjodohan, tetapi kalo kedua belah pihak sudah saling suka.
- jika salah satu dari mereka suka dan ingin menikah tetapi dengan penduduk baduy luar, mereka yang berasal dari baduy dalam harus siap keluar dari baduy dalam.
- penduduk baduy dalam boleh-boleh saja melakukan perjalanan hingga keluar kota, seperti Jakarta, Bandung, dll. Akan tetapi sebagai syaratnya adalah mereka tidak boleh menggunakan kendaraan apapun itu.
-mereka boleh memakan apa saja kecuali kambing dan (saya lupa).
-pakaian mereka 100% dibuat sendiri.
-mata pencaharian mereka adalah berkebun, menenun, membuat kerajinan tangan seperti tas, piring, gelas yang terbuat dari bambu.
-mereka melahirkan dengan dibantu oleh paraji atau dukun beranak.
-mereka juga boleh melakukan pemilihan umum (PEMILU) akan tetapi tidak dipaksakan, hanya untuk yang mau saja.
-mereka tidak mengenal sekolah apalagi membaca dan menulis.
-setiap laki-laki, baik kecil maupun dewasa mereka selalu membawa semacam golok kecil yang di sangkutkan di bagian celananya.
-mereka tidak memiliki agama. Tetapi sebagai penganut kepercayaan sunda wiwitan.
-mereka juga memiliki nama-nama bulannya sendiri (saya tidak hapal karena dalam versi sunda :)).
-setiap bulan Juli, Agustus, September dalam kalender mereka, kunjungan untuk orang luar di tutup. Karena mereka sedang mengadakan acara adat.
-mereka juga berpuasa, bedanya kalau kita puasa selama 30 hari full dalam sebulan. Kalau mereka 1 bulan hanya 1 kali puasa, itu disebut puasa 30 hari oleh mereka.
-untuk masalah perceraian, mereka boleh bercerai tapi konsekuensinya mereka harus di usir dari Suku Baduy.
Itu berberapa yang saya tahu, dan mohon maaf kalau ada kesalaham-kesalahan.
13 Mei 2018.
Subuh-subuh sekali kita bangun, lalu mandi dan rapi-rapi. Setelah itu kita sarapan.
Selesai semua, kita siap-siap untuk pulang karena perjalanan baru akan di mulai kembali.
Jujur aja, semalaman saya enggak bisa tidur, badan rasanya kayak habis di pukulin orang se-Baduy :)
Ini beberapa pemandangan di sepanjang kita pulang.
Kita juga mampir ke jembatan akar yang terkenal itu, tapi sayangnya saya enggak banyak foto-foto disana, karena sudah telalu letih hayati bangggg.... :(
Sekitar pukul 14.00 WIB kita sudah sampai di Desa Ciboleger lagi dan bertemu dengan Indomart, itu rasanya seperti surga yang di rindukan part ke sekian :p
Oh iya, disana juga tersedia banyak oleh-oleh loh, ada madu, gula aren, kain tenun, aksesoris seperti gelang, kalung, gantungan kunci, tas rajut, dll. Saya hanya membeli madu khasnya Baduy aja. Efek ga mau bawa barang berat-berat (padahal memang dompet tiris pisan euy) :)
Pukul 14.30 WIB kita naik elf menuju stasiun Rangkas Bitung.
Ini foto-foto sebelum kita naik elf dan say good bye pada Baduy
Dan inilah beberapa foto yang sayang untuk di buang :))
Dan ini oleh-oleh dari Baduy :(
Dan inilah akhir dari perjalanan saya menuju Desa Ciboleger-Baduy Dalam, Banten.
Oh iya, trip yang saya pakai ini adalah @postualang.
Jadi, seumpama kawan-kawan ada yang berminat bisa cek instagramnya ya.
Terima kasih semua.
See u di perjalanan selanjutnya... Hmmmmm..... kemana ya....




















Komentar
Posting Komentar