TRIP TO SEMARANG
Hai, Desember.
Trip ke Semarang ini aku berangkat hari Jumat tanggal 14 Desember 2018. Ke Semarang ini aku sudah yang kedua kali. Terakhir itu tahun 2012 lalu, tapi hanya sekedar untuk singgah, karena tujuan utamanya waktu itu mau ke Karimun Jawa.
Berangkat Jumat malam tepatnya pukul 23.00 dengan kereta Tawang Jaya Tambahan dari St. Pasar Senen. Perkiraan sampai di Semarang Poncol itu pukul 06.00. Tapi berhubung ada sedikit gangguan, kereta kita telat satu jam.
Sepanjang perjalanan seperti biasa, apalagi yang bisa dilakukan selain main handphone dan molor alias tidur. Oh ya, kali ini aku pergi berdua dengan teman jalanku, sebut saja dia Cielo, hehe.
Sebenarnya ada 2 teman kami yang lebih dulu berangkat ke Semarang, tapi berhubung dunia perkantoran tidak mengijinkan, alhasil kita tidak bisa ikut mereka.
Pukul 06.45 kita sampai di St. Semarang Poncol. Rencana awal kita mau langsung cek in di hotel. Oh ya kita nginep di Hotel Airy daerah Semawis hanya semalam. Berhubung hotel belum bisa cek in, jadilah kita hanya menumpang mandi dan titip barang.
Rencana awal kita sampai, kita langsung pergi ke Candi Gedong Songo. Tapi berhubung sudah pagi menjelang siang dan perjalanan ke sana lumayan makan waktu, jadi kita batalkan untuk kesana.
Perjalanan pertama kita adalah ke Klenteng Tay Kak Sie. Tempatnya ini tidak jauh dari hotel kami. Sekitar 300m aja. Di sana aku berfoto-foto, sedangkan Cielo beribadah.
Menurutku Klenteng ini te
Dari Klenteng Tay Kak Sie kita lanjut ke samping Klenteng, di sampingnya terdapat lumpia gang lombok yang paling terkenal di Semarang. Berhubung Cielo tidak makan daun bawang dan ayam, jadi hanya saya yang makan. Sebiji lumpia harganya Rp 15.000, terdiri dari lumpia basah dan lumpia goreng. Berhubung antrian yang lumayan panjang, jadi saya hanya memesan 1 biji saja, yang basah.
Setelah makan lumpia, kita mampir ke tempat sebelahnya. Berhubung pas lagi terik-teriknya nih matahari ada di atas kepala, jadilah kita makan es kelapa termahal yang pertama aku makan.
Selesai makan es kelapa, destinasi kuliner yang kita masukan list adalah Leker Paimo. Berhubung kita anak yang males tanggung-tanggung, jadilah kita jalan kaki di siang bolong, liat maps sih deket ya, hanya sekilo lebih. Kita jabanin lah.
Leker Paimo ini letaknya di depan salah satu SMA di Semarang. Pas kita kesana memang terbukti yang beli isinya anak-anak sma semua. Berasa mudalah aku di sana, hehe...
Harga Leker Paimo ini tergolong murah banget sih, apalagi kalo yang suka jajan pinggir jalan. Rasanya pun macam-macam, enggak cuma yang manis-manis aja, ada sosis, telor, kornet, tuna, dll.
Cus, lanjut nemenin Cielo makan makanan vegetarian. Jalan kaki lagi? Oh tentu saja.
Tempat vegetarian di Semarang ini tergolong banyak sih, tapi titik terdekat kita adalah Karuna Vegetarian. Makanannya enak, harganya pun murah. Nasinya bermacam-macam, ada nasi merah, kebuli, kuning, putih, dan hitam. Dari nasi aja udah bingungkan, belum lagi lihat menunya yang segambreng banyaknya.
Selesai makan, kita cus pulang ke hotel untuk cek in. Sekalian tunggu 2 teman kita yang datang dari Lasem.
Molor sampai sore.
Berkumpullah kita pada akhirnya. Kita sengaja memesan hotel di dekat Pasar Semawis karena kalau hari Jumat, Sabtu, dan Minggu selalu ada pasar malamnya di sana. Bagi teman-teman yang hobi kulineran sangat di wajibkan untuk pergi kesana.
Sepanjang jalan ini isinya berbagai macam jenis makanan, dari yang jajanan ringan, minuman, sampai makanan berat. Tapi, hati-hati ya bagi yang muslim karena ada beberapa makanan yang mengandung babi. So, kalo mau beli mending tanya-tanya dulu.
Jajanan pertama kita dan tentunya yang masuk list adalah Pisang Plenet.
Pisang plenet ini harganya termasuk murah sih ya dan rasanya macem-macem juga.
Lanjut makanan selanjutnya adalah Soto Ayam Pak Gembus.
Berhubung yang makan soto ini bukan aku, jadi aku enggak tau rasanya. Menurut temenku sih termasuk enak. Tinggal rekuest aja mau pake nasi atau enggak.
Selesai makan kita kejar waktu untuk ke lawang sewu. Ini wajib sih, karena dulu waktu aku kesana itu versi siang hari dan masih bisa masuk ke bawah tanahnya.
Selamat datang di Lawang Sewu.
Berhubung sudah malam dan mau tutup pula jadi kita memakai guide untuk masuk. Kita adalah pengunjung terakhir yang masuk. Wow.
Lawang sewu ini bagus sekali kalo malam. Cahaya-cahaya lampu dan gedungnya yang masih alami yang menambah kesan romantis (romantis dari hongkong, wkwkkw).
Berhubung aku orangnya pelupa, jadi bagi teman-teman yang mau lebih jelas mengenai sejarah lawang sewu bisa google atau kalo langsung datang ke tkp bisa pakai jasa pemandu. Hitung-hitung menambah penghasilan mereka.
Dan salah satu spot yang jadi pointnya di lawang sewu adalah penjara bawah tanah. Sayangnya penjara ini sudah tidak bisa dikunjungi oleh pengunjung karena tangga menuju kesananya sudah rusak. Bersyukurnya aku dulu masih bisa merasakan.
Selesai dari lawang sewu kita kembali ke hotel. Tapi berhubung masih jam 21.30 jadilah kita mampir ke salah satu cafe jamu, aku lupa namanya (maafkan, hehehe). Tempatnya enak, suka. Jamunya pun banyak jenisnya. Bisa disesuaikan dengan kebutuhan badan kita.
Dan aku yang di bully, maklum anak bawang.
Selesai hari ini. Selamat bobo zzzzzzzzzzz...
Besoknya kita ke jalan-jalan (beneran jalan ya guys) ke Kota Lama Semarang dan Gereja Blenduk. Oh iya teman-teman sepanjang perjalanan saya di Semarang kita menggunakan jasa transportasi online. Tenang di Semarang sudah banyak.
Suka sekali dengan gedung-gedung di Kota Lama ini, tapi sayangnya pas aku kesana ada beberapa yang lagi di renovasi. Jalanannya pun lagi di perbaiki.
Dari Kota Lama kita lanjut ke salah satu rumah singgah yaitu Rumah Harapan Indonesia (RHI). RHI ini menampung beberapa anak yang memiliki berbagai macam penyakit yang datang dari beberapa daerah di Indonesia yang kurang mampu. Cabang RHI sendiri ada di beberapa kota di Indonesia. Dulu kita pernah ke RHI yang di Jakarta. Sekarang berhubung ada cabang di Semarang enggak ada salahnya kita berkunjung ke sana.
RHI Semarang baru di didirikan selama 2 tahun. Dan hanya menampung sekitar 15-18 anak saja beserta orang tua asuhnya.
Mengundang badut, makan bersama, bermain sulap, cerita dongeng, dan foto-foto bersama om badut jadi acara kita saat di RHI.
Selesai dari RHI kita mampir beli oleh-oleh di jalan Pandanaran. Oleh-oleh khas Semarang itu ada Lumpia, Wingko Babat, ikan Bandeng, dan Mochi.
Lanjut kita pulang ke hotel karena salah satu temen kita harus tereliminasi pulang terlebih dahulu, hehehe...
Sekitar jam 17.00 aku dan sisa temenku melanjutkan jalan-jalan di Semarang. Next kita lanjut ke Klenteng Sam Pho Kong.
Di klenteng Sam Pho Kong sendiri lebih modern dibandingkan Klenteng Tay Kak Sie. Klenteng Sam Pho Kong ini terdiri dari tiket biasa hanya di pelataran luar dan tiket terusan yang bisa masuk sampai dalamnya.
Perjalanan pulang dari Klenteng, kita lanjut kulineran di Pasar Semawis (lagi dan lagi).
Belum sah ke Semarang kalo belum makan kupat tahu khas Semarang.
Gulali isi kacang dan cokelat.
Ini es hawa, seperti es potong, bikin ketagihan, yakin deh ga cukup satu makannya. Dan hanya abang ini one and only yang jual.
Perut kenyang, saatnya pulang ke hotel, bersih-bersih dan kembali ke Jakarta.
Kita naik kereta Brantas tambahan tujuan St. Pasar Senen.
Oke sekian blog aku kali ini, jalan-jalan di Semarang. Thank U, next.
Perincian Biaya:
- Kereta Tawang Jaya : Rp 130.000
- Kereta Brantas Tambahan : Rp 140.000
- Klenteng Tay Kak Sie : Gratis
- Klenteng Sam Pho Kong biasa : Rp 10.000
- Klenteng Sam Pho Kong terusan : Rp 28.000
- Lumpia gang Lombok : @Rp 15.000
- Es kelapa : Rp 28.000
- Leker Paimo bervariasi : Rp 4.000
- Makan Vege (aqua, sate, arem2) : Rp 12.000
- Cakwe : @Rp 5.000
- Es Hawa : @Rp 2.500
- Soto ayam : Rp 28.000
- Tupat Tahu : Rp 28.000
- Gulali : Rp 20.000
- Jamu : Rp 17.000
- Pisang Plenet : Rp 10.000
- Lawang Sewu : @Rp 10.000
- Guide : Rp 50.000































Komentar
Posting Komentar