PULAU TUNDA, BANTEN.
PULAU TUNDA, BANTEN, 6-7 JULI 2019.
Hari ke-1
Pulau Tunda adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Luas Pulau Tunda adalah sekitar 300 hektare. Pada Tahun 2007, jumlah penduduk Pulau Tunda mencapai 3000 orang. Secara administratif, Di Pulau Tunda terdapat 1 desa yaitu Desa Wargasara. Nama Desa tersebut diartikan sebagai Desa yang warganya taat kepada hukum, Wargasara adalah sebuah nama Desa yang diberikan oleh Almarhum tokoh masyarakat dikala itu yang bernama H. Mohammad Toha yang menjabat sebagai kepala desa. Desa ini terdiri atas 2 dusun yakni Kampung Barat dan Kampung Timur. Pekerjaan penduduk desa umumnya adalah buruh nelayan, bercocok tanam palawija, dan sebagian kecil sebagai pedagang perantara. Wikipedia.
Menuju Pulau Tunda kita meeting point di Taman Tugu Debus, Serang Timur, Banten. Ada beberapa alternatif menuju Pelabuhan Karangantu, bisa naik kereta KRL dari Stasiun Tanah Abang-Stasiun Rangkasbitung, setelah itu lanjut dari Stasiun Rangkasbitung menuju Stasiun Karangantu menggunakan kereta KRD.
Bisa juga naik bus ke arah Merak dari Slipi Jaya, lalu turun di Taman Tugu Debus, Serang Timur, dari sana bisa lanjut naik angkutan online atau carter angkot menuju Pelabuhan Karangantu.
Perjalanan menggunakan kapal dari Pelabuhan Karangantu menuju Pulau Tunda kurang lebih memakan waktu 2-2,5 jam, tergantung kondisi ombak saat itu.
Kami berangkat hari Sabtu, pukul 04.00 pagi dari Cawang menuju Slipi Jaya, lalu tiba pukul 04.30 pagi. Setelah sampai kami menunggu bus ke arah Merak. Dari Slipi Jaya menuju Taman Tugu Debus memakan waktu 1-1,5 jam.
Ombak ketika kami berangkat saat itu tergolong tenang dan cuaca sangat cerah. Tepat jam 12 siang kami sampai di Pulau Tunda, setelah saya jakpot abis-abisan diperjalanan (kebetulan kondisi saya sedang kurang enak badan saat itu). Sesampainya disana, kami disuguhkan makan siang dengan nasi, ikan bakar, sayur asem, sambel, lalapan, dan kerupuk. Maknyusss bukan.
Selesai makan siang dan pembagian kamar dihomestay, kami lanjut perjalanan ke spot barat dan spot nemo untuk snorkling. Untuk spot barat karang-karangnya tergolong bagus dan lumayan masih banyak yang hidup. Karang-karang disana bentuknya seperti bunga warna cokelat yang besar-besar.
Sedangkan untuk spot nemo, amat sangat disayangkan karena banyak karang yang sudah mati disana. Mungkin salah satu penyebabnya adalah terinjak-injak oleh pengunjung ketika sedang snorkling, karena posisinya yang memang sangat mudah untuk diinjak. Jadi, buat temen-temen yang mau snorkling dimanapun tempatnya, harus hati-hati dan dilihat-lihat dulu kondisi karangnya, kedalamannya pun sangat berpengaruh. Semakin dalam, semakin aman untuk karang tersebut tidak terinjak oleh kita.
Selesai snorkling kita lanjut jalan kaki menuju Jembatan Galau namanya. Jembatannya sudah lumayan agak rapuh dibeberapa spotnya, jadi bagi teman-teman yang mau kesana, harap hati-hati ya. Jembatan galau ini salah satu spot untuk melihat sunset. Sesuai dengan namanya, Jembatan Galau, ada senja, dijembatan, dengan angin yang semilir pula, membuat kita menjadi galau.
Saat malam tiba, di pulau ini banyak sekali bintang-bintang. Buat kita yang orang Jakarta jarang-jarang bukan bisa melihat bintang yang banyak seperti ini. Langit di pulau ini tergolong bersih dari polusi dan semoga tetap akan seperti ini ya.
Tiba di hari ke-2
Setelah sarapan, kita lanjut snorkling ke spot karang donat dan spot star fish. Tapi berhubung saya dan teman-teman saya punya tujuan lain, jadi kita enggak ikut snorkling.
Sebelum berangkat ke Pulau Tunda ini, sebenernya kita udah searching dulu, ada apa sih di Pulau Tunda ini, dan ternyata disini tuh ada sebuah taman baca. Ya, tentu saja tanpa pikir panjang, kita bawa beberapa buku yang sudah kita siapkan dari Jakarta untuk kita bagi-bagikan kepada adik-adik disini.
Namun sangat disayangkan, kondisi taman bacanya sungguh sangat miris. Hanya terdapat sebuah rak buku yang didalamnya tersusun buku-buku yang sebenarnya sangat bagus-bagus, tapi ada beberapa yang lecek dan bahkan rusak terobek. Padahal taman bacanya bagus loh dari segi fisik luarnya, sudah di cat, di lukis pula. Entah apa karena tidak ada yang menjaga atau karena apa sampai rusak seperti itu, kamipun tidak tahu.
Setelah acara kami selesai dan teman-teman yang lain pun selesai snorkling, tibalah kami untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, sekitar jam 1an, kami packing dan bersiap naik ke kapal untuk pulang menuju Pelabuhan Karangantu. Kurang lebih sekitar jam 3 sore, kami tiba di Pelabuhan Karangantu.
Dan itulah kurang lebih cerita open trip kami ke Pulau Tunda ini. Semoga tetap indah, polusi udaranya tetap bersih, sampah-sampah bisa berkurang, dan karang-karang serta ikan-ikannya tetap sehat ya.
Sampai jumpa di Trip selanjutnya.
Info open trip: @pulautundapunyacerita (instagram).
Pulau Tunda adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Laut Jawa, yakni di sebelah utara Teluk Banten. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Luas Pulau Tunda adalah sekitar 300 hektare. Pada Tahun 2007, jumlah penduduk Pulau Tunda mencapai 3000 orang. Secara administratif, Di Pulau Tunda terdapat 1 desa yaitu Desa Wargasara. Nama Desa tersebut diartikan sebagai Desa yang warganya taat kepada hukum, Wargasara adalah sebuah nama Desa yang diberikan oleh Almarhum tokoh masyarakat dikala itu yang bernama H. Mohammad Toha yang menjabat sebagai kepala desa. Desa ini terdiri atas 2 dusun yakni Kampung Barat dan Kampung Timur. Pekerjaan penduduk desa umumnya adalah buruh nelayan, bercocok tanam palawija, dan sebagian kecil sebagai pedagang perantara. Wikipedia.
Menuju Pulau Tunda kita meeting point di Taman Tugu Debus, Serang Timur, Banten. Ada beberapa alternatif menuju Pelabuhan Karangantu, bisa naik kereta KRL dari Stasiun Tanah Abang-Stasiun Rangkasbitung, setelah itu lanjut dari Stasiun Rangkasbitung menuju Stasiun Karangantu menggunakan kereta KRD.
Bisa juga naik bus ke arah Merak dari Slipi Jaya, lalu turun di Taman Tugu Debus, Serang Timur, dari sana bisa lanjut naik angkutan online atau carter angkot menuju Pelabuhan Karangantu.
Perjalanan menggunakan kapal dari Pelabuhan Karangantu menuju Pulau Tunda kurang lebih memakan waktu 2-2,5 jam, tergantung kondisi ombak saat itu.
Kami berangkat hari Sabtu, pukul 04.00 pagi dari Cawang menuju Slipi Jaya, lalu tiba pukul 04.30 pagi. Setelah sampai kami menunggu bus ke arah Merak. Dari Slipi Jaya menuju Taman Tugu Debus memakan waktu 1-1,5 jam.
Ombak ketika kami berangkat saat itu tergolong tenang dan cuaca sangat cerah. Tepat jam 12 siang kami sampai di Pulau Tunda, setelah saya jakpot abis-abisan diperjalanan (kebetulan kondisi saya sedang kurang enak badan saat itu). Sesampainya disana, kami disuguhkan makan siang dengan nasi, ikan bakar, sayur asem, sambel, lalapan, dan kerupuk. Maknyusss bukan.
Selesai makan siang dan pembagian kamar dihomestay, kami lanjut perjalanan ke spot barat dan spot nemo untuk snorkling. Untuk spot barat karang-karangnya tergolong bagus dan lumayan masih banyak yang hidup. Karang-karang disana bentuknya seperti bunga warna cokelat yang besar-besar.
Sedangkan untuk spot nemo, amat sangat disayangkan karena banyak karang yang sudah mati disana. Mungkin salah satu penyebabnya adalah terinjak-injak oleh pengunjung ketika sedang snorkling, karena posisinya yang memang sangat mudah untuk diinjak. Jadi, buat temen-temen yang mau snorkling dimanapun tempatnya, harus hati-hati dan dilihat-lihat dulu kondisi karangnya, kedalamannya pun sangat berpengaruh. Semakin dalam, semakin aman untuk karang tersebut tidak terinjak oleh kita.
Selesai snorkling kita lanjut jalan kaki menuju Jembatan Galau namanya. Jembatannya sudah lumayan agak rapuh dibeberapa spotnya, jadi bagi teman-teman yang mau kesana, harap hati-hati ya. Jembatan galau ini salah satu spot untuk melihat sunset. Sesuai dengan namanya, Jembatan Galau, ada senja, dijembatan, dengan angin yang semilir pula, membuat kita menjadi galau.
Saat malam tiba, di pulau ini banyak sekali bintang-bintang. Buat kita yang orang Jakarta jarang-jarang bukan bisa melihat bintang yang banyak seperti ini. Langit di pulau ini tergolong bersih dari polusi dan semoga tetap akan seperti ini ya.
Tiba di hari ke-2
Setelah sarapan, kita lanjut snorkling ke spot karang donat dan spot star fish. Tapi berhubung saya dan teman-teman saya punya tujuan lain, jadi kita enggak ikut snorkling.
Sebelum berangkat ke Pulau Tunda ini, sebenernya kita udah searching dulu, ada apa sih di Pulau Tunda ini, dan ternyata disini tuh ada sebuah taman baca. Ya, tentu saja tanpa pikir panjang, kita bawa beberapa buku yang sudah kita siapkan dari Jakarta untuk kita bagi-bagikan kepada adik-adik disini.
Namun sangat disayangkan, kondisi taman bacanya sungguh sangat miris. Hanya terdapat sebuah rak buku yang didalamnya tersusun buku-buku yang sebenarnya sangat bagus-bagus, tapi ada beberapa yang lecek dan bahkan rusak terobek. Padahal taman bacanya bagus loh dari segi fisik luarnya, sudah di cat, di lukis pula. Entah apa karena tidak ada yang menjaga atau karena apa sampai rusak seperti itu, kamipun tidak tahu.
Setelah acara kami selesai dan teman-teman yang lain pun selesai snorkling, tibalah kami untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, sekitar jam 1an, kami packing dan bersiap naik ke kapal untuk pulang menuju Pelabuhan Karangantu. Kurang lebih sekitar jam 3 sore, kami tiba di Pelabuhan Karangantu.
Dan itulah kurang lebih cerita open trip kami ke Pulau Tunda ini. Semoga tetap indah, polusi udaranya tetap bersih, sampah-sampah bisa berkurang, dan karang-karang serta ikan-ikannya tetap sehat ya.
Sampai jumpa di Trip selanjutnya.
Info open trip: @pulautundapunyacerita (instagram).
















Komentar
Posting Komentar